Home > Fantasy, Girl's Generation, Romance, Story, Super Junior > [FF] Magic Book part 4

[FF] Magic Book part 4

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

Magic Book part 4

2 tahun kemudian

Donghae’s POV

Acara bermalam ke puncak selama tiga hari bersama kru drama baruku, itulah yang memenuhi pikiranku saat ini.

            Sungguh, aku sangat tidak suka bepergian, apalagi sampai harus bermalam di tempat lain yang bukan rumahku. Aku tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan kru drama kali ini. Mereka… menyebalkan. Ini bukan pertama kalinya aku main drama, dan setahuku, biasanya tidak ada acara seperti ini.

            Kutatap tegel marmer tempatku memijakkan kakiku, sambil merenung memikirkan cara agar aku bisa menghindari acara tidak penting kali ini. Belum sampai sedetik aku berpikir, telepon yang terletak di meja kecil samping sofa ruang tamu berdering, membuat konsentrasiku buyar.

            “Yoboseyo,” sapaku kepada si penelepon.

            “Hyung, aku sudah menyiapkan makanan untuk kaubawa di acaramu ke puncak besok,” tukas Ryeowook, adik angkatku.

            Aku mendesah, bahkan Ryeowook juga sepertinya sangat mendukungku untuk pergi ke puncak.

            “Makanan apa?” tanyaku dengan nada suara datar.

            “Ada kimchi, kentang goreng, ttokbokki, pie apel, kue keju, dan banyak jenis makanan kesukaanmu yang lainnya,” ujarnya bersemangat.

            “Jadi kapan kau akan mengantarkannya?”

            “Besok.”

            “Apa kau lupa kalau besok aku sudah harus berangkat? Dan aku berangkat pagi-pagi.”

            “Aku akan datang lebih awal. Kau tenang saja,” bujuknya.

            “Yeah, terserahlah,” sahutku tak acuh, menutup telepon.

            Sudahlah Donghae, hanya tiga hari. Kau harus membiasakan dirimu. Tidak usah memikirkannya, karena bagaimanapun kau memikirkannya, kau juga tidak akan bisa lepas dari acara itu, bujukku pada diriku sendiri.

            Aku mendesah keras, lalu bangkit dari sofa tempatku duduk, dan berjalan ke kamarku. Di atas nakas kamarku, terdapat sebuah kotak kecil berwarna coklat, yang isinya tidak lain adalah sepasang cincin yang selalu membebani kepalaku dengan pertanyaan, yang tak pernah bisa kujawab. Aku mengambil kotak itu, dan membukanya.

            Sepasang cincin emas putih yang dihiasi permata berlian terpampang di hadapanku, begitu kotak itu terbuka. Aku sama sekali tidak bisa mengingat bagaimana bisa cincin itu ada di sini. Dan yang paling membuatku heran, pada kedua cincin itu ada ukiran yang bertuliskan: Lee Donghae love Song Mikan, Song Mikan love Lee Donghae. Aku tidak mengenal siapa itu Song Mikan. Ini terlalu tidak masuk akal bagiku.

            Logikanya, tidak mungkin ada orang—selain aku—yang akan menyimpan cincin, apalagi cincin semahal ini di apartemenku. Aku bahkan sudah memastikan hal itu dengan menanyakan orang-orang yang biasa datang kemari, dan mereka sama sekali tidak tahu mengenai cincin itu, apalagi mengenai Song Mikan. Dan kenapa bisa ada namaku turut terukir di atasnya? Hal tidak masuk akal macam apa ini?

            Aku menghela napas panjang, lalu menutup kotak coklat yang tampak elegan itu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi, dan meletakkannya begitu saja di nakas samping tempat tidurku. Hampir setiap malam aku memandangi sepasang cincin janggal yang kuduga sebagai cincin pernikahan itu, berharap aku bisa mengingat sesuatu mengenai cincin itu, tapi memoriku tidak kunjung datang juga.

Kutarik selimut sampai batas leherku, memasukkan seluruh badan kecuali kepalaku ke dalamnya. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku secara perlahan, lalu aku mulai memejamkan mataku.

***

Ting.. Tong…

            Kukerjapkan mataku perlahan, dan melirik jam dinding di tembokku. Jam itu menginformasikanku kalau sekarang sudah pukul 6. Tapi, siapa yang datang pagi-pagi begini? Selintas adegan percakapan dengan Ryeowook semalam terputar cepat di kepalaku, dan memberitahukan jawabannya padaku; pasti Ryeowook yang datang.

            Aku memijakkan kakiku di lantai, lalu berjalan membuka pintu dengan mata setengah terbuka, sambil sesekali menggaruk-garuk kepalaku yang terasa gatal. Benar saja, begitu kubuka pintu, sosok Ryeowook dalam balutan kaos kasual dengan celana jins biru tua berdiri di hadapanku. Beberapa buntalan yang kuyakini isinya adalah makanan, juga ada di tangannya.

            Ryeowook tersenyum, lalu mengangkat tinggi-tinggi buntalan itu hingga sejajar dengan wajahnya, lalu berjalan masuk ke dalam tanpa meminta izin secara resmi padaku sebelumnya. Tanpa sungkan-sungkan, dia mendaratkan bokongnya di sofaku, dan meletakkan semua buntalan-buntalannya di atas meja kaca di depan sofa itu.

            “Hyung, kau belum siap-siap? Kau berangkat jam berapa?” tanyanya, mendongakkan kepalanya menatapku yang sedang berdiri di depannya.

            “Apa eomma yang menyuruhmu menyiapkanku makanan?” aku bertanya, tidak menghiraukan pertanyaannya sebelumnya.

            “Tidak juga. Aku kan memang hobi memasak.”

            “Lalu apa yang eomma katakan mengenai kepergianku ke puncak ini?”

            “Dia bilang semoga kau bisa mendapatkan istri di sana,” tukas Ryeowook, tersenyum.

            “Cih,” aku mencibir. “Kalau kau berpikir kalimatmu barusan lucu, maka kau benar-benar parah,” dengusku.

            “Hei, aku tidak sedang melucu, hyung. Kau kan bertanya apa yang dikatakan eomma,” elaknya.

            “Kau sendiri juga belum menikah,” seruku.

            “Aku lebih muda darimu.”

            “Satu tahun!”

            “Tetap saja lebih muda,” sangkalnya, mengedikkan bahunya. “Lagi pula aku hanya anak angkat di keluargamu. Tidak masalah bagiku jika tidak cepat-cepat menikah. Tidak menikah pun tidak masalah. Sedangkan kau? Kau bertugas untuk memberikan penerus bagi keluargamu agar dapat meneruskan perusahaan mereka, dan perlu kau ingat, umurmu sekarang sudah lebih daripada cukup untuk menikah” tandasnya lagi.

            “Ya, ya, ya, terserah sajalah,” ujarku malas, lalu beranjak ke kamarku.

            Kuguyur tubuhku dengan air hangat yang menyembur dari shower di kamar mandiku, lalu menyapukan sabun dan shampoo secara asal-asalan di seluruh tubuh dan rambutku. Selesai itu, langsung saja kukenakan kaos berwarna hijau tosca yang dipadukan dengan celana ketat hitam, tanpa memedulikan badanku yang masih basah, dan menyebabkan pakaianku turut basah sedikit.

            Kubereskan pakaian yang akan kubawa dalam kecepatan kilat, lalu segera mengenakan sepatu kets putih, dan menyampirkan jaket ke bahuku.

            “Aku sudah mau pergi. Kau bisa pulang sekarang,” usirku.

            “Biarpun kau tidak mengatakannya, aku juga sudah tahu,” dengus Ryeowook.

            “Kim Ryeowook, pastikan kalau kau memberitahu ini pada eomma: aku belum mau menikah! Jangan terus mendesakku untuk mencari istri lagi, karena jika kau terus mendesakku, aku lebih memilih untuk tidak menikah selamanya!” kataku. “Ingat! Pastikan kau memberitahunya, atau kalau tidak aku tidak akan membantumu mencarikan adikmu,” tambahku lagi.

            “Arasseo, arasseo,” ujarnya tak acuh. Ryeowook sudah memunggungiku saat dia melontarkan kalimatnya. Dia mengangkat satu tangannya, tanpa sama sekali membalikkan badannya.

            Kunaiki mobil Nissan Skyline-ku—yang baru kubeli beberapa bulan yang lalu—dan menancapkan gasnya dalam-dalam. Derum mesin mobil terdengar meraung ganas, sebelum akhirnya aku meluncurkannya di jalan raya. Aku mengarahkan mobilku langsung menuju ke puncak, setelah sebelumnya aku memberitahukan kepada kru kalau aku akan langsung bertemu dengan mereka di puncak.

            Angin dingin dari puncak langsung menerobos masuk dalam baju tipisku, membuat seluruh tubuhku terasa dingin, dan bulu kudukku meremang ketika aku turun dari Skyline-ku. Kuambil jaket yang telah kusediakan sebelumnya dalam mobilku, lalu mengenakannya di tubuhku. Jam tangan yang kukenakan di tanganku memberitahuku kalau sekarang sudah pukul 10 pagi. Jika sesuai dengan janji, maka seharusnya mereka sudah tiba di sini. Tapi pada kenyataannya, tidak satu pun dari mereka yang kelihatan batang hidungnya.

            Kulangkahkan kakiku mondar-mandir di sekitar mobilku dengan tangan yang bersedekap di dada, dan kepala menunduk memandang tanah berkerikil di bawahku, merekam setiap langkah kakiku. Lama sekali mereka datang. Apa mereka tidak tahu kalau orang yang menunggu itu sangat menderita? Well, mungkin tidak sampai segitunya; tapi karena aku sangat tidak suka menunggu, ini bagaikan penderitaan yang sangat bagiku.

            “Yoboseyo,” sapaku ketika ponselku berbunyi.

            “Donghae~ah, kau dimana?” tanya Jungsoo hyung.

            “Aku sudah ada di puncak, di depan hotel tempat kita akan menginap.”

            “Ya ampun!” pekiknya di telingaku. “Aku lupa memberitahumu kalau tempat menginap kita sekarang sudah berubah.”

            “Jadi sekarang tempatnya dimana?” desakku dengan nada suara yang datar.

            “Kau tunggu saja di sana. Aku akan menyuruh Taeyeon menjemputmu.”

            “Tidak usah,” tolakku cepat. “Beritahukan saja padaku daerahnya di sekitar mana.”

            “Tidak bisa. Kau tidak akan bisa menemukannya. Sudahlah, pokoknya kau tunggu di sana, dan jangan kemana-mana,” pinta Jungsoo hyung.

            “Arasseo. Jangan membuatku menunggu terlalu lama,” desisku.

            “Taeyeon, cepat kau pergi ke hotel tempat kita mau menginap sebelumnya, menjemput Donghae,” teriaknya masih dalam sambungan telepon, memekakkan telingaku. Aku sampai harus menjauhkan ponselku sejauh beberapa senti, sebelum mengembalikannya ke telingaku ketika suaranya telah mereda.

            “Kau tidak perlu berteriak di telingaku hyung,” protesku.

            Reaksi balasan dari Jungsoo hyung hanyalah tawa. Aku diam, sebelum terlintas suatu pertanyaan yang menggelitik pikiranku untuk mencari tahu jawabannya.

            “Tapi kenapa kita bisa pindah hotel?” aku menyuarakan pertanyaan itu.

            Hening.

            Jungsoo hyung tidak langsung menjawab pertanyaanku. Barulah setelah jeda beberapa saat, Jungsoo hyung berkata, “Orang yang mengarang naskah dramamu yang mengusulkan ide ini.”

            Orang yang mengarang naskah dramaku? Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, tapi aku tidak tertarik untuk mencari tahu, karena cepat atau lambat aku yakin aku akan segera mengetahuinya. Dan, orang itulah yang mengusulkan usul tolol untuk berpindah hotel ini? Apa yang ada dalam kepalanya?

            “Hah! Apa yang ada di kepala si pengarang naskah itu sampai melakukan hal ini? Apa bedanya hotel ini dengan hotel lainnya? Yang penting dapat tinggal, itu saja. Cukup, dan titik!” omelku.

            “Kau tidak perlu menuangkan unek-unekmu padaku, ketika kau bisa langsung menanyakannya kepada orang yang bersangkutan. Dan sepertinya, ada sesuatu yang kau salah pahami di sini. Tapi kurasa kau tidak perlu tahu apa itu, karena kau akan segera tahu nantinya,”

            “Baiklah! Aku tidak peduli.” Tukasku, bola mataku berputar ke banyak tempat yang tidak jelas.

            Perputaran bola mataku berhenti ketika aku melihat seorang gadis berambut sepinggang, dengan kaos sederhana berwarna kuning dan cardigan hijau tua serta celana jins biru dan tas selempang yang tersampir di bahunya. Dia berjingkat pelan ke arahku, dan ketika dia berhenti di hadapanku, matanya seketika membelalak.

            Aku bergeming, terpaku menatapnya yang terbelalak, karena pada dasarnya hatiku sendiri berkecamuk menimbulkan rasa nyeri yang tak kumengerti. Jantungku bertalu-talu lebih cepat dari biasanya, dan sesuatu terasa berputar di kepalaku. Beribu pertanyaan langsung menghantam kepalaku: siapa gadis ini? Dia, cantik. Dan yang paling aneh, aku merasa pernah bertemu dengannya sebelumnya, walaupun tidak pernah tersimpan data konkret pertemuanku dengannya dalam kepalaku.

            Kepalaku rasanya seperti ingin meledak akibat mencari jawaban yang terus menggelitik kepalaku. Perasaan aneh ini, rasanya bahkan lebih daripada aneh. Aku merasa pernah bertemu dengannya, tapi jauh sebelum pertemuanku dengannya, ada pertemuan lain yang telah lebih dulu terjadi antara aku dan dia. Perasaan aneh, yang bahkan tak kumengerti dan tak pernah kujumpai sebelumnya. Menurut akal sehatku, ini sama sekali tidak masuk akal. Karena pada dasarnya, aku tidak pernah bertemu dengannya.

            “Donghae-ssi,” pekik Taeyeon sambil berlari kecil ke arahku dan gadis di depanku ini.

            Aku memiringkan kepalaku sedikit, lalu melambai kepada Taeyeon. “Taeyeon~ah,” sapaku.

            “Kau sudah lama menunggu? Mian, tadi aku ada urusan sedikit jadi aku menyuruh temanku duluan datang menjemputmu. Tapi setelah beberapa saat, kalian tak kunjung datang juga, jadi aku kemari.”

            “Oh, gwaenchana,” sahutku. Pikiranku sama sekali tidak bisa terfokus. Dan, gadis aneh —dalam pikiranku—inilah penyebabnya.

            “Kalau begitu, kaja,” ajak Taeyeon segera, dan menarik tangan gadis aneh yang diakuinya sebagai temannya itu.

            Aku sendiri masuk ke dalam Nissan skyline-ku, dan berjalan mengikuti Mercedes Taeyeon yang memimpin jalan di depanku. Selama perjalanan, aku terus memutar-mutar kepalaku melihat area di sekitar jalan. Ada yang ganjil di sini. Arah yang dituju Taeyeon semakin lama semakin jauh dari peradaban kecil, tempat tersedianya beberapa hotel di puncak ini. Dan yang terhampar di sekitarku sekarang, hanyalah pohon-pohon pinus dan hutan-hutan yang semakin lama semakin lebat saja.

            Taeyeon memarkirkan mobilnya di dekat salah satu pohon pinus, dan aku mengikutinya—mermarkirkan mobilku di sebelah Mercedes-nya.

            Aku semakin mengernyitkan keningku ketika kulihat hamparan tenda-tenda aneka ukuran dan warna yang membentuk sebuah komunitas perkemahan di tanah lapang di tengah hutan ini. Mataku menangkap beberapa orang artis yang kukenal, yang kuketahui akan bermain dalam drama ini bersamaku. Ada apa ini? Pemahaman baru dengan cepat melintas di kepalaku, dan menginformasikan sebuah dugaan: kami akan menginap di bawah naungan tenda.

            “Jangan bilang kalau kita akan berkemah?” seruku pada Taeyeon yang berdiri di sampingku.

            “Tapi memang seperti itulah kenyataannya,” tukas Taeyeon santai. “Jangan bilang kau takut binatang buas,” ejeknya, lalu tertawa terbahak-bahak. Padahal leluconnya sama sekali tidak lucu.

            Aku memelototinya.

            “Oke, oke.. Mian,” desahnya. “Jungsoo oppa ada di sana,” tandasnya. Tangan Taeyeon menunjuk pada sebuah tenda yang terletak paling ujung.

            Tanpa banyak basa-basi, aku segera melangkah dengan cepat menuju ke tenda itu. Jungsoo hyung sedang duduk di antara perbatasan tendanya dengan luar tenda. Dia tampak membalut rapi tubuhnya dengan selimut tebal, hingga ke kepalanya. Matanya memandang lurus ke jajaran pohon-pohon yang mengelilingi tanah lapang ini.

            “Hyung!” pekikku.

            “Donghae~ah, wasseo!”

            Aku beringsut duduk di sampingnya. “Jadi ini yang kaumaksud dengan kesalahpahaman yang akan segera kuketahui?” tanyaku ketika aku sudah berhasil menemukan posisi duduk yang nyaman.

            “Kau pintar juga.” Dia menepuk-nepuk kepalaku. Aku membiarkannya, bukan karena aku menyenangi hal itu, tapi karena aku malas menghiraukan hal sepele yang tidak penting.

            “PERHATIAN, PERHATIAN! KEPADA SELURUH ANGGOTA KRU DIHARAPKAN BERKUMPUL DI SINI!” seru seseorang menggunakan toa.

            Aku mengumpat pelan, dan mulai berjalan ke tanah lapang di sekitar perkemahan. Seorang pria dengan gaya laksana ingin berorasi berdiri pada sebuah pijakan serupa dengan panggung, yang membuatnya terlihat beberapa kali lebih tinggi.

            “SEKARANG KITA AKAN MEMULAI ACARA PERKENALAN ANTAR KRU,” teriak orang itu. “KIM TAEWOO IMNIDA. SAYA MEMEGANG SALAH SATU BAGIAN YANG TIDAK BEGITU PENTING DALAM DRAMA INI, TAPI JIKA TIDAK ADA SAYA, SAYA SANGAT YAKIN KALAU DRAMA TIDAK AKAN BISA BERJALAN DENGAN BAIK,” tukasnya penuh percaya diri. Orang-orang yang sudah berkumpul di sini mulai menyorakinya atas kepercayaan dirinya.

            “SELANJUTNYA, SAYA MOHON KEPADA SONG MIKAN-SSI UNTUK MAJU KE DEPAN.”

            Mataku membulat. Kupakai jari kelingkingku untuk mengorek telingaku sebagai reaksi refleksku. Apa tadi pria bernama Kim Taewoo itu menyebut nama Song Mikan? Nama Song Mikan bukankah merupakan nama yang terukir pada cincin itu? Kurogoh sakuku dengan gelisah, mencari kotak berwarna coklat yang dengan sengaja kubawa tadi. Kubuka kotak itu, dan kutarik salah satu cincin itu.

            Jelas sekali di situ tertulis nama Song Mikan. Apa itu artinya, Song Mikan yang dimaksudkan Kim Taewoo sama dengan si pemilik nama Song Mikan yang terukir di cincin ini? Tidak banyak orang yang bernama Song Mikan.

            Seorang gadis yang tidak asing lagi bagiku naik ke atas pijakan yang serupa dengan panggung kecil itu, berdiri di samping Kim Taewoo. Gadis itu bukan lagi merupakan gadis asing bagiku, karena dia merupakan gadis yang sama dengan yang kutemui beberapa saat yang lalu—yang diakui Taeyeon sebagai temannya.

            Gadis itu menunduk 90 derajat. “SONG MIKAN IMNIDA. MOHON BANTUANNYA.”

            Jadi benar namanya adalah Song Mikan? Aku meyakini telingaku, karena menurutku, telingaku tidak cukup tuli untuk salah mendengar sesuatunya sebanyak dua kali. Dan dia adalah gadis yang membuat pikiran dan perasaanku menjadi berantakan akibat perasaan pernah mengenalnya sebelumnya, tapi perasaan itu entah kenapa seperti berada dalam perbatasan antara suatu perasaan yang abstrak dan nyata. Jadi, apa gadis itu benar-benar ada hubungan denganku dulu? Apa aku pernah mengalami kecelakaan dan menderita amnesia? Tidak, tidak mungkin. Aku sama sekali tidak pernah mengingat adegan keberadaanku di rumah sakit dalam keadaan tidak mengenal siapa pun. Aku bahkan masih mengingat masa kecilku hingga sekarang.

            Tapi gadis itu, dia seperti sesuatu yang terlewatkan begitu saja. Dan aku merasa, seseorang seperti menghapus memoriku secara paksa tentang gadis bernama Song Mikan itu. Untuk membuktikan pemikiranku, aku memiliki bukti nyatanya—cincin dengan ukiran namaku dan namanya. Tapi itu sama sekali tidak masuk akal. Memangnya siapa yang bisa menghapus memoriku secara paksa? Pencuci otak? Cih, rasanya tidak penting sekali. Penyihir? Konyol!

            “SONG MIKAN INI ADALAH PENGARANG NASKAH DRAMA YANG AKAN KITA MAINKAN KALI INI. JADI, KITA SEMUA BISA BERKUMPUL SEPERTI INI SAAT INI, DIKARENAKAN KARYANYA,” jelas Kim Taewoo.

            Oh, jadi dia pengarang yang memiliki usul gila ini? aku menyimpulkan dalam kepalaku. Dia… menyebalkan. Dalam sehari dia berhasil membuatku jadi kacau. Ingatan tidak jelas mengenai dirinya, perasaan aneh yang langsung menyerbuku dan membuat hatiku terasa nyeri, bahkan dia juga menyiksa fisikku dengan usul bodohnya untuk tidur di perkemahan. Aku mendesah, tidur di hotel saja aku tidak suka, apalagi tidur di tempat seperti ini dengan hanya beralaskan tikar yang tipis dan bernaungan terpal tenda yang tidak akan melindungiku dari kedinginan malam yang menyerbuku. Aku tidak yakin kalau aku akan bisa tidur selama tiga hari ini.

            “SELANJUTNYA…..”
Kim Taewoo melanjutkan kata-katanya, sementara aku memilih melarikan diri dari kerumunan ini. Biar saja kalau namaku dipanggil; sekali-sekali bertingkah membangkan kurasa tidak ada salahnya. Kepalaku terasa sudah tidak mampu mengatasi ini, dan aku harus mengistirahatkan tubuhku.

            Aku berjalan menuju tenda Jungsoo hyung, dengan maksud menginap di tendanya, sebelum akhirnya aku membatalkan niatku karena melihat sebuah tenda lain berdiri di samping tenda Jungsoo hyung dan Taeyeon. Ada kertas kecil di pintu lemas tenda itu, yang bertuliskan :

To Donghae : Aku sudah membuatkanmu tenda agar kau tidak menggangguku!!!

From : Jungsoo

            Aku hanya mengedikkan bahuku singkat, lalu beranjak masuk ke dalam tenda yang dibuatkan Jungsoo hyung. Di dalamnya, sudah tersedia matras kecil lengkap dengan bantal guling dan kepala, serta lapisan tikar tipis di atas tanah berumput di hutan ini.

            Kurebahkan tubuhku di atas matras itu, kemudian kembali membuka cincin dalam kotak coklat itu lagi. “Lee Donghae love Song Mikan”, gumamku mengeja apa yang tertulis di cincin itu. Kuambil cincin untuk prianya, dan kembali kubaca kalimat yang terukir di dalamnya, “Song Mikan love Lee Donghae.”

            Aku mendengus. Sesuatu tidak masuk akal macam apa yang menimpa hidupku. Kenapa aku harus memeras otakku sedemikian rupa demi jawaban tidak jelas yang membuat perasaanku jadi kacau balau?

            Merasa lelah berpikir, kusudahi aktifitasku itu. Keadaan di luar sudah sepi—tidak ada lagi suara-suara memekakkan telinga dari para anggota kru itu, terutama Kim Taewoo. Aku menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri dan keluar. Aku memejamkan mataku beberapa detik lalu membukanya kembali, ketika kulihat keadaan di sekitarku sudah malam. Ah, pantas saja kepalaku sakit. Aku sudah berpikir terlalu lama. Apa aku terlalu abnormal karena menyiksa diriku sendiri untuk berpikir mengenai sesuatu yang kuyakini dengan akal sehatku adalah khayalan?

            Aku berjalan menuju tempat mobilku terparkir untuk mengambil piama dari bahan satin yang akan membantuku tertidur. Setelah mengambil pakaian, aku berjalan kembali menuju tendaku untuk berusaha tidur. Namun, tujuanku teralihkan ketika aku melihat seorang gadis yang tidak lain adalah Song Mikan melintas di hadapanku, menuju ke suatu tempat yang masih belum kuketahui. Aku mengikutinya dari belakang secara sembunyi-sembunyi, sampai dia tiba di tempat tujuannya, yang tidak lain adalah hulu sungai.

            Arus sungai terlihat cukup deras, tapi kupikir arus itu tidak akan cukup kuat untuk menghanyutkan orang dewasa, kecuali jika arus sungai itu menderas beberapa kali lipat lagi. Di sana, ada seorang pria yang tidak kuketahui adalah siapa sedang duduk menghadap ke hamparan aliran sungai yang deras itu. Sinar bulan menyepuh air yang mengalir menjadi tampak sangat menawan. Suasana yang romantis.

           “Siwon,” pekik Song Mikan, menginformasikanku kalau nama pria itu adalah Siwon. Pria bertubuh kekar bernama Siwon itu berbalik, dan tersenyum. Senyumnya tampak samar di tengah gelapnya bayang-bayang pohon yang menghalangi sinar bulan.

            Song Mikan beranjak duduk di samping Siwon, dan mulai mengobrol. Aku tidak tahu apa obrolan mereka, karena kemampuan telingaku tidak cukup untuk dapat menangkap percakapan bersuara kecil mereka, dalam radius jarak yang cukup jauh seperti ini.

            Entah kenapa, sesuatu seperti memanas dalam hatiku, membuat seluruh tubuhku terasa membakar secara abstrak, dan nyeri terasa mendera secara bertubi-tubi di hatiku. Napasku memburu, dan aku tahu penyebabnya adalah kebersamaan Song Mikan dengan Siwon itu. Aku memilih untuk beranjak pergi, dan tidak membiarkan diriku semakin memanas saja akibat terlalu lama menatap mereka.

            Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, berusaha melampiaskan kemarahanku pada suatu tempat—meski hal yang kulakukan ini tidak benar-benar membuat amarahku dapat terlampiaskan. Kurebahkan tubuhku begitu saja di atas matras, dan mengatupkan mataku rapat-rapat. Bayangan keakraban Song Mikan dengan Siwon semakin terlihat jelas ketika mataku tertutup, membuatku lagi-lagi menahan napasku untuk meredakan debar jantungku yang memburu. Sepertinya, aku harus segera melakukan sesuatu agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.

***

Mikan’s POV

 

Sinar matahari yang cerah menembus masuk melalui serat-serat kecil kain tendaku, membawa bayang-bayang kecerahan ke seluruh penjuru tenda kecilku. Kupejamkan mataku beberapa saat, sebelum aku membukanya seutuhnya. Ternyata ideku untuk berkemah memang sangat bagus.

            “Mikan, kau sudah bangun?” sahut Madeley yang sedang berbaring di sampingku.

            Aku bangkit duduk. “Apa kau tidak bisa melihat sendiri?”

            “Aku kan hanya berbasa-basi,” bela Madeley untuk dirinya sendiri.

            “Jadi apa kau sudah tahu kalau Lee Donghae adalah salah satu pemeran dalam dramamu?” tanya Madeley.

            “Tentu saja. Aku baru mengetahuinya kemarin. Salahku juga tidak mencari tahu siapa-siapa saja artis yang akan berperan dalam dramaku, sampai aku tercengang selama beberapa saat ketika pertama kali bertemu dengan Donghae,” jelasku.

            “Ya, mau bagaimana lagi, kau kan memang begitu,” ejek Madeley.

            “Sudahlah, aku mau mandi dulu sekarang.”

            “Kau mau mandi dimana? Di sini kan tidak ada kamar mandi,” Madeley mengingatkanku.

            “Ya ampun. Kalau begitu bagaimana caraku dan anggota kru yang lainnya mandi dan buang air?” Aku menepuk kepalaku.

            “Itulah kau. Selalu tidak berperhitungan,” desahnya. “Mandi di sungai saja, sana,” usul Madeley.

            Ya ampun. Bodohnya aku. “Babo, babo,” aku merutuki diriku sendiri, memukul-mukul kepalaku. Mandi di sungai bukan usul yang buruk di tengah keadaan yang seperti ini, tapi kurasa bukan juga merupakan ide yang cukup bagus.

            Madeley bersedekap. “Sudahlah, sudahlah. Tidak ada gunanya kau melakukan itu sekarang.”

            Aku berjingkat kecil ke arah tenda Jungsoo oppa dan Taeyeon, lalu mulai menggoyang-goyangkan tenda mereka yang masih terkunci, dari luar. Bunyi ritsleting terdengar. Aku menundukkan kepalaku, melihat Jungsoo oppa yang sudah membukakan ritsleting tenda dengan tampang yang masih sangat kusut; khas orang baru bangun tidur.

            “Oppa, Taeyeon mana?”

            “Waeyo?” sahut Taeyeon langsung.

            Aku segera beranjak masuk ke dalam tenda, berdesakan dengan Jungsoo dan Taeyeon dalam tenda mereka yang kecil. “Kau mandi dimana?”

            “Aku belum mandi.”

            “Aku tahu. Maksudku, kau mau mandi dimana?” tanyaku.

            “Di sungai saja. Tidak ada tempat mandi lain di sini. Beruntung karena perkemahan kita dekat dengan tepi sungai,” bisik Taeyeon. Dia bahkan masih sempat bersyukur.

            “Tapi apa kau tidak takut akan ada orang yang mengintipmu?”

            “Hei, ini adalah risiko kau mau menginap di tempat seperti ini. Kalau yang kaukhawatirkan adalah Taeyeon, maka itu tidak perlu. Dia akan mandi bersamaku,” seru Jungsoo oppa, menyela.

            “Aku mengkhawatirkan diriku sendiri juga,” akuku, menundukkan kepalaku.

            “Kalau begitu, cepatlah cari suami agar bisa mandi bersamamu juga, seperti aku dan Taeyeon,” desis Jungsoo sambil memandang Taeyeon dengan tatapan yang tak bisa kudeskripsikan, tapi cukup membuatku merasa mual.

            “Ya! Park Jungsoo! Jangan membuatku mual!” tegurku.

            “Siapa peduli,” sahut Jungsoo oppa tak acuh.

            Tanpa berkata apa-apa, dia segera menggeserku keluar dari tendanya, lalu kembali mengancingkan ritsleting tenda itu.

            “Menyebalkan!” umpatku, lalu berjalan meninggalkan mereka.

Aku melangkah cepat ke sungai, lalu mengaitkan handuk di bawah ketiakku, untuk menutupi tubuhku, dan beringsut masuk ke dalam genangan air sungai. Untuk satu dan lain hal, aku merasa seperti seorang gadis desa yang sedang mandi dalam sungai. Aku mendengus, lalu menepis pikiran tidak penting itu. Aku mandi dalam kecepatan yang ekstrem. Selesai mandi, cepat-cepat aku naik dan bersiap membawa lari pakaianku menuju tenda. Aku memutuskan untuk berganti baju dalam tenda—sepertinya lebih aman.

Tanganku dicekal oleh seseorang, membuat tubuhku berbalik mengikuti tarikan itu, dan membuatku dapat melihat dengan jelas orang yang menahan tanganku itu. Lee Donghae. Ekspresi wajahnya datar; aku tak bisa melihat apa pun dari situ, dan itu membuatku cemas karena merasa buta akan sesuatunya. Aku tidak tahu apakah Donghae akan marah padaku atau mungkin hal yang lain.

Jantungku berdebar dengan cepat dan keras. Sekali lagi, hal seperti napas memburu, rusuk yang terasa nyeri akibat pukulan jantung yang tidak konstan dan keras, darah yang mengalir deras ke seluruh bagian tubuhku, pipi yang merona merah, keseimbangan tubuh yang muncul-hilang, kembali menderaku, sama seperti saat aku bersama Donghae dua tahun yang lalu. Cukup lama aku tidak merasakannya, membuatku rindu akan perasaan seperti ini. Jika dulu aku tidak begitu menyukai perasaan ini karena membuatku kelihatan tolol, sekarang aku merasa sangat menyukainya—atau aku salah mengartikan perasaanku, karena yang kusukai sebenarnya adalah keberadaan Donghae di sisiku? Entahlah. Perasaan ini… terlalu rumit untuk dimengerti, bahkan oleh diriku sendiri.

Dia menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. “Kau Song Mikan?” tanyanya. Suaranya yang menyebut namaku membuat sesuatu dalam diriku seolah terangkat terbang.

“Ne,” jawabku.

Hal yang dilakukannya selanjutnya, membuatku terkejut setengah mati. Dadaku terasa sesak oleh gelembung perasaan yang tidak kuketahui disebut sebagai perasaan seperti apa tepatnya—tapi aku tahu itu adalah salah satu perasaan yang bagus, membuatku kesulitan untuk bernapas.  Donghae menyapukan bibirnya ke bibirku, perlahan dan intens. Mataku yang terbelalak perlahan menutup, dan terhanyut dalam ciuman Donghae selama beberapa saat. Angin dingin mengembus ke tubuhku yang hanya terbalut handuk basah, yang malah membuatku semakin merasa kedinginan. Tapi aku seperti tidak rela melepas momen ini.

Sesuatu seperti menghantam keras kepalaku, dan membebaninya dengan beberapa pemikiran yang didasarkan fakta dari dunia nyataku. Aku melepaskan diriku secara paksa meski tidak rela. Masalahnya, aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Donghae sekarang, dan dia langsung menciumku begitu saja. Aku sama sekali tidak mengerti. Sekarang aku menyesal: kenapa dulu aku tidak meminta kemampuan membaca pikiran dari Madeley? Setidaknya itu masih akan lebih baik daripada meminta Donghae jatuh cinta padaku, lalu meminta permintaan yang malah berkebalikan dari hal itu lagi. Sebenarnya sekarang juga, kalau aku mau, aku bisa saja meminta kemampuan membaca pikiran itu—berhubung aku masih memiliki kesempatan satu permintaan lagi. Aku menepis pikiran absurdku dengan segera; kurasa aku tidak perlu meminta hal yang tidak penting seperti itu.

Mata Donghae berkilat, seperti marah—aku tidak terlalu yakin akan hal itu. Dia kembali menarik tanganku, dan menciumku dengan ganas, membuatku merasa kecanduan sekaligus ketakutan. Di dalam ciumannya, aku merasakan kelembutan yang bercampur dengan keganasan yang mengerikan, membuat diriku merasakan perasaan aneh menjalar ke seluruh hatiku. Aku ingin melepaskan diri, tapi tidak cukup kuat untuk hal itu—selain karena tenagaku tidak cukup, sedikit perasaan tidak rela juga terjejal di dalam hatiku.

Siwon melepaskanku dari Donghae, kemudian berdiri di depanku, menghadap Donghae. Gigiku bergemeretak, akibat campuran perasaan cemas yang dikarenakan ketegangan yang terjadi antara Donghae dan Siwon, ditambah faktor kedinginan.

“Siapa kau?” tuntut Donghae, rahangnya mengeras.

“Apa itu penting?” Siwon tertawa sinis. “Tapi baiklah, aku akan memberitahukanmu siapa aku. Namaku Choi Siwon, dan aku merupakan salah seorang staf dalam drama ini, Lee Donghae!”

Donghae mengisyaratkan ekspresi cukup terkejut di wajahnya. “Dari mana kau tahu namaku?” seru Donghae.

Siwon tertawa, sepertinya mengejek. “Kau lupa kalau kau artis? Bodohnya kau, Lee Donghae,” cibir Siwon.

Mata Donghae berkilat marah—kali ini aku bisa memastikannya. “Dan ada hubungan apa kau dengan Mikan? Kau pacarnya?”

Siwon terdiam. Hening beberapa saat. Hanya suara desau daun di pepohonan yang tertiup anginlah yang terdengar. Suasananya membuat bulu kudukku meremang, ditambah lagi faktor yang menyatakan kalau aku kedinginan.

“Sekarang memang belum. Tapi—“

“Hah! Cukup itu saja informasi yang kuperlukan, Choi Siwon-ssi!” seru Donghae, memotong perkataan Siwon.

“Tapi ke depannya, aku akan membuat Mikan jatuh ke pelukanku,” tandas Siwon, tetap melanjutkan perkataannya yang diputus oleh Donghae dengan penuh percaya diri.

“Kaja,” ajak Siwon, menarik tanganku.

Aku masuk ke tenda dan segera mengganti bajuku lalu bersembunyi di balik selimut. Kulitku terasa sedikit panas, sementara tubuhku sepertinya kedinginan. Apa mungkin aku sakit? Kurasa yang paling kuperlukan sekarang adalah beristirahat.

TBC

  1. anakingusan
    August 21, 2011 at 2:06 PM

    kyaaa, suka deh sama ff ini..
    suka, suka, suka.. =3
    *reader sarap*

    • August 21, 2011 at 2:55 PM

      hehe~ gomawo udah baca…
      akhirx ada juga yang komen.. ^^

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: