Home > Fantasy, Romance, Story > [FF] Magic Book Part 1

[FF] Magic Book Part 1

Author : OnlYurin

Genre : romance, fantasi

Length : chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk, dsb…

N.B : Mohon Kritik dan sarannya yaa~

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah pada keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

Part 1

 

Mikan, nama gadis itu, sedang mengurusi tumpukan buku di sebuah ruangan tua di rumahnya.

Ruangan itu besar, dan sepertinya mengambil lebih dari setengah bagian rumah kecilnya yang terletak di pinggiran kota. Rumah Mikan kecil, persis seperti rumah orang miskin kebanyakan, dengan luas apartemen tipe 90, yang dilengkapi dengan dua buah kamar. Salah satunya adalah kamarnya, dan yang lainnya adalah kamar buku-buku aneka macam ketebalan warisan neneknya.

Mikan tidak pernah tahu untuk apa neneknya yang notabene adalah seorang penyihir menyimpan tumpukan buku sebanyak itu, bahkan menyiapkan ruangan khusus yang membuatnya merasa kurang leluasa bergerak dalam rumah kecilnya. Bahkan, tumpukan buku aneka ketebalan dan sampul itu membuatnya harus bergelut dengan debu yang dapat menumpuk hanya dalam kurun waktu seminggu.

Dia pernah mengusulkan pada neneknya, yang merupakan satu-satunya anggota keluarganya saat itu, kalau dia ingin menjual buku-buku itu, komplet dengan raknya, dan memanfaatkan uangnya untuk kebutuhan sehari-hari—selain bisa dimanfaatkan uangnya, buku-buku beserta rak kayu tuanya itu tidak akan memakan banyak tempat lagi, dan membuat rumah sempitnya semakin sempit saja. Dia juga jadi tidak perlu membersihkan buku-buku beserta raknya itu seminggu sekali. Tapi apa dapat dikata Mikan, neneknya menolak mentah-mentah usulnya, bahkan memarahinya habis-habisan karena mengusulkan hal seperti itu.

Bahkan neneknya yang sudah tua renta itu mengatakan, kalau Mikan keberatan untuk membersihkan buku-buku itu, maka dia yang akan turun tangan sendiri; membuat Mikan serba-salah. Mana tega Mikan membiarkan neneknya mengerjakan pekerjaan berat itu sendiri, sementara Mikan hadir sebagai satu-satunya keluarga yang dapat membantu neneknya itu.

Dan saat terakhirnya hidup di dunia, sebelum mengembuskan napasnya yang terakhir, nenek Mikan memintanya untuk menjaga tumpukan buku itu baik-baik, tidak peduli apa pun yang terjadi, Mikan tidak boleh menjual buku itu, apalagi menyerahkannya pada sembarang orang. Mau tidak mau, Mikan menyetujui hal itu. Dan kini, di sinilah dia, di deretan rak raksasa, pada sebuah kamar berukuran cukup besar di sebuah rumah kecil, sedang bergelut dengan debu-debu tebal yang sudah menumpuk pada buku-buku yang tidak dibersihkannya selama sebulan. Sesekali debu yang masuk ke hidungnya membuatnya bersin-bersin. Tapi apa daya, kalau tidak membersihkannya saat ini juga, debu pada tumpukan buku itu akan semakin menumpuk, dan akan semakin sulit dibersihkan.

Keluarganya memang aneh. Mikan sama sekali tidak mengerti mengapa neneknya perlu menyimpan buku tidak berguna sebanyak itu—yang tidak lain adalah buku sihir, yang bahkan Mikan tidak ketahui apakah benar-benar bisa berfungsi atau tidak. Pada kenyataannya, jika sihir-sihir neneknya benar-benar bisa berhasil, dia tidak akan perlu repot-repot bekerja sambilan di sebuah warung kopi terkenal dengan bos yang bengisnya bukan main. Dia pasti sudah hidup bergelimangan harta, bukan di rumah kecil di pinggir kota seperti ini.

Dan orangtuanya, Mikan tidak mengerti dengan apa yang ada dalam kepala orangtuanya. Jelas-jelas mereka sekeluarga adalah warga keturunan Korea murni, tapi untuk apa mereka menamainya dengan nama seperti orang Jepang? Mikan tidak terlalu suka namanya. Banyak orang yang bertanya padanya ‘apakah dia pindahan dari Jepang’, hanya karena namanya. Tapi tidak ada yang dapat dilakukan Mikan. Sebenci apa pun dia pada namanya, nama itu adalah nama pemberian orangtua yang sangat disayanginya.

Sayang, orangtuanya harus meninggalkannya di usia yang masih sangat kecil—tujuh tahun—karena sebuah kecelakaan sihir, hasil ulah neneknya. Mikan tidak tahu dengan jelas kejadian itu; dia terlalu kecil untuk mengingatnya. Bagaimanapun, dia masih bersyukur karena neneknya masih bisa menemaninya hingga dia bertumbuh dewasa. Ironisnya, neneknya harus meninggal ketika dia berusia 22 tahun, tepatnya satu tahun yang lalu. Hal itu membawa kepedihan di hati Mikan, membuatnya menangis selama beberapa hari.

Satu-satunya warisan yang ditinggalkan neneknya adalah tumpukan buku sihirnya, yang malah membuat Mikan kerepotan setiap minggunya untuk menyempatkan diri, di tengah padatnya kesibukannya untuk mencari uang.

“Hah,” desah Mikan. Dia mengusap keningnya menggunakan punggung tangannya yang terbebas dari kotoran debu. Masih ada setengah bagian lagi, dengan kadar ketebalan debu serupa, gumamnya, dalam hati.

Mikan terus saja membersihkan buku itu satu per satu, sampai tangannya dengan tidak sengaja menyentuh sebuah buku tebal, dan membuatnya terjatuh. Buku itu terbuka pada salah sebuah halamannya.

Melihat buku itu, membuat sesuatu dalam diri Mikan tertarik untuk membaca detil isi buku itu. Selama ini dia memang hanya sekadar membersihkan bagian sampul buku-buku yang ada di ruangan ini, dan tidak pernah sekalipun tertarik untuk membuka dan membaca dalamnya. Dan ketika saat ini buku itu terjatuh dan terbuka dengan sendirinya, rasa penasaran Mikan entah kenapa jadi lebih menggebu-gebu daripada biasanya.

Mikan menunduk, memunguti buku yang tergeletak pada lantai yang dilapisi keramik putih yang sudah pecah-pecah pada beberapa bagiannya, dan mengangkat buku itu. Dia menajamkan matanya, dan melihat tulisan-tulisan pada buku di halamannya yang membuka, dengan saksama. Tulisan neneknya yang kecil, dan agak berantakan membuat Mikan mengalami kesulitan dalam membaca buku itu. Tulisan khas penyihir.

 

Mantra untuk mengabulkan tiga permintaan. Baca dengan saksama, lafalkan setiap katanya dengan hati-hati, dan keajaiban akan terjadi.

 

Mikan terkekeh melihat tulisan neneknya itu. Jelas, itu adalah sesuatu yang mustahil. Kalau sejak dulu mantra yang dibuat nenek Mikan ini berhasil, dia pasti tidak akan menjadi orang miskin hingga sekarang. Tapi, sepertinya tidak ada ruginya dicoba, batin Mikan. Dia kembali membaca deretan huruf pada buku itu.

 

Hanbeonman anajwo hanbonman useojwo mameul al tende jamkanman bwado nal yeongwonhi nae maeum seumgiryeogo

 

Mikan menggelengkan kepalanya. Semua kata-katanya tidak masuk akal; artinya tidak saling berhubungan. Well, tapi itu kan mantra, bisa saja memang sengaja diciptakan begitu. Mikan pun memutuskan untuk membacanya dengan lantang, “Hanbeonman anajwo hanbonman useojwo mameul al tende jamkanman bwado nal yeongwonhi nae maeum seumgiryeogo.”

Sesuatu yang mengilat berputar-putar keluar dari buku itu. Putarannya semakin lama semakin cepat dan besar, membuat kepala Mikan ikut berputar. Mikan mengedipkan matanya, berusaha menetralisir kepusingan yang sedang melandanya akibat putaran cepat dan mengilat itu. Putarannya seperti angin topan. Apa buku itu benar-benar memiliki sihir? Kalau tidak, bagaimana sesuatu yang seperti itu keluar dari dalamnya?

Tidak butuh waktu lama, semua pertanyaan dalam kepala Mikan terjawab. Dari buku itu, keluar seorang wanita; sangat cantik. Dia memakai gaun selutut dengan model masa kini berwarna hijau pastel. Di kakinya, wanita itu menggunakan sepatu dengan hak kira-kira 15 sentimeter berwarna senada, dengan hiasan bunga mengilat pada bagian atasnya, membuat kaki jenjangnya yang sudah indah semakin tampak menawan.

Wanita itu terlihat memakai make up tipis berwarna cerah di wajahnya. Rambut panjang keritingnya yang berwarna hitam membingkai indah wajahnya. Matanya besar, dan bulu matanya panjang, bagai memakai bulu mata palsu. Bibirnya yang mungil tampak ranum diantara kedua pipinya yang tampak sedikit berisi. Hidungnya mancung sempurna, menyempurnakan wajahnya yang sangat memukau. Benar-benar tipe wanita idaman. Bisa dijamin, pria manapun yang melihatnya pasti akan sulit menolak pesonanya.

Mikan melongo melihat pesona sekaligus keajaiban wanita di hadapannya. Pikirannya berjalan dengan lambat, dan sama sekali tidak bisa memproses semuanya dengan baik. Dia kebingungan, sekaligus terpesona. Mikan mengerjapkan matanya beberapa kali, berpikir setelah dia menutup dan membuka kembali matanya, wanita cantik itu akan menghilang dari hadapannya. Tapi dugaannya salah, karena wanita itu masih berdiri dengan senyum yang tersungging di bibirnya.

“Seonhwa, kau terlihat lebih muda dan lebih cantik sekarang,” tukas wanita cantik itu. Suaranya berdentang dengan lembut dan merdu. Bahkan, sepertinya tidak ada penyanyi yang bisa menyaingi kemerduan suara wanita ajaib ini. Matanya yang bulat dan bola matanya yang berwarna coklat jernih memandang kepada Mikan dengan kagum. Tapi, tunggu dulu, dia menyebut Mikan dengan nama Seonhwa?

Mikan terlihat bingung. Seonhwa adalah nama neneknya yang sudah meninggal akibat gangguan kesehatan. Umur yang sudah tua memang rentan untuk terkena penyakit, dan Mikan tahu kalau saat itu memang sudah waktunya neneknya meninggalkannya. Mikan menautkan kedua alisnya, mengekspresikan kebingungannya pada wanita ini.

“Apa kau sudah berhasil menciptakan sihir awet muda sekarang? Lihat, kau bahkan tampak semakin cantik saja.”

“Tunggu dulu,” sergah Mikan cepat, sebelum wanita itu kembali melanjutkan kata-katanya. “Kau siapa? Dan bagaimana kau mengenal nenekku?”

Mata wanita itu membulat. “Jadi kau bukan Seonhwa? Lalu siapa kau? Kenapa kau bisa ada di perpustakaan milik Park Seonhwa, Ehm, maksudku Kim Seonhwa?” wanita itu balik bertanya; bukannya menjawab pertanyaan Mikan. Dia bahkan melimpahkan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada Mikan.

Mikan mengeluarkan napasnya dengan keras hingga terdengar seperti desahan, di tengah ruangan sepi yang bisa diklaim sebagai perpustakaan, yang isinya hanya buku karangan khusus neneknya ini. “Aku bertanya, dan kau malah balik bertanya padaku. Bahkan kau melipatgandakan pertanyaanku,” dengus Mikan.

“Baiklah nona. Jelas sekali aku asing denganmu. Jadi bisakah kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?” tandas wanita itu, dengan nada yang kurang ramah.

“Cih,” umpat Mikan. Dia tidak pernah menyangka kalau di dalam balutan postur tubuh dan pakaian sempurna wanita cantik ini, ada seorang yang sangat menyebalkan dan tidak tahu diri—setidaknya begitu menurut penilaian Mikan. “Namaku Mikan, Song Mikan—“

“Apa kau orang Jepang?” potong wanita itu, sebelum Mikan sempat melanjutkan kata-katanya. Dan parahnya, kalimat potongan yang dilontarkannya merupakan kalimat yang paling sering didengar oleh telinga Mikan saat baru pertama kali berkenalan dengan seseorang, sekaligus sesuatu yang sangat dibencinya. Awal-awalnya, dia sama sekali tidak membenci hal itu. Tapi, karena terlalu banyak orang yang melontarkan hal yang sama, Mikan menjadi jengah, dan lama-kelamaan jadi membencinya.

“Apa kau tidak dengar kalau margaku adalah Song?” tanya Mikan, dengan nada retoris, yang tidak membutuhkan jawaban. “Sebaiknya kau tidak memotongku saat aku bicara, apalagi dengan pertanyaan semacam itu!” Mikan tidak dapat menyembunyikan nada tinggi dalam suaranya—atau dia memang sengaja mempertunjukkan nada tinggi itu untuk wanita ini.

“Calm down miss.. Calm down,” bujuk wanita itu, yang justru membuat kepala Mikan semakin terasa panas saja.

Mikan menghela napasnya panjang dalam satu tarikan, kemudian melanjutkan kalimat-kalimatnya yang sempat terputus akibat pertanyaan tidak bermutu dari wanita ini. “Seonhwa adalah nenekku, dan itu artinya rumah ini adalah rumahku. Sekarang bisa kau jelaskan siapa dirimu sebenarnya?”

Wanita itu mengangguk-angguk, tampak masih sedang mencerna perkataan Mikan satu per satu dalam kepalanya. “Lalu Hyunjae dan Raena dimana? Dan Seonhwa?” tanya wanita itu, tidak menghiraukan pertanyaan Mikan sebelumnya.

“Mereka bertiga sudah meninggal. Bagaimana bisa kau mengenal—“

“Ya ampun, maksudmu Seonhwa, Hyunjae dan Raena meninggal. Oh, oh, aku bahkan tidak menghadiri pemakaman mereka,” gumam wanita itu, lirih.

“Yeah.. yeah,” dengus Mikan, malas. “Jadi bisa kau jelaskan siapa kau sekarang?”

“Baiklah nona.” Ekspresi wanita itu berubah tegas. “Meski aku tidak pernah tahu siapa kau, tapi aku akan menjelaskan tentangku padamu, berhubung kau terlihat sangat penasaran tentangku, dan tidak bertampang kriminal,” gurau wanita itu. Tapi Mikan yang sudah setengah jengah dengan sikap wanita ini, menanggapinya dengan umpatan kecil dalam hatinya.

“Namaku adalah Madeley”—cih, namanya sendiri seperti orang inggris, masih mengomentari namaku, batin Mikan—“Seonhwa yang menciptakanku. Dia yang memberiku nama seperti ini.”

“Seonhwa menciptakanku 50 tahun yang lalu, jadi usiaku sekarang tepat berumur 50 tahun. Tapi sejak dulu sampai sekarang, parasku tetap begini-begini saja.”

“Tunggu dulu. Maksudmu, sihir nenekku berhasil?” sergah Mikan.

“Apa kau tidak pernah tahu kalau Seonhwa adalah penyihir yang hebat? Sihirnya hampir semuanya berhasil; aku merupakan salah satu bukti nyata keberhasilannya.”

“Jadi kau ini apa?”

“Apa?” Madeley tertawa renyah, dengan nada yang sedikit sinis. “Kaupikir aku ini benda? Aku ini jin pengabul permohonan,” tukasnya langsung, tanpa menunggu Mikan mengungkapkan alasannya atas pernyataan apa yang sebelumnya dia katakan. “Saat aku diciptakan, Seonhwa masih berusia 35 tahun, dan Raena 17 tahun. Saat itu, ayah Raena, Seunghyun, masih hidup. Aku sering sekali bercanda dengan mereka, terutama Seonhwa. Dia sangat baik padaku, dan biasa membuatkanku baju-baju yang sangat menarik.” Madeley mengenang pengalaman masa lalunya.

“Tapi, kau benar-benar bisa mengabulkan permohonan?” tanya Mikan. Baginya, yang terpenting Madeley bisa mengabulkan keinginannya. Dia tidak perlu tahu sejarah keluarganya, karena menurutnya itu tidak terlalu penting. Matanya berbinar-binar, dan kekesalan pada Madeley tadi menguap entah kemana.

“Tentu saja. Tapi, aku adalah jin berotak yang diciptakan Seonhwa agar tidak mengabulkan permintaan orang dengan sembarangan. Aku bisa memilah yang mana yang baik, yang boleh dikabulkan dan yang mana yang buruk,” jelas Madeley.

“Tapi kenapa nenekku tidak meminta sesuatu padamu? Seperti kekayaan, mungkin?” Mata Mikan menerawang saat mengatakan itu. Dia benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikir neneknya. Semuanya aneh; bukan hanya neneknya, tapi juga ayah dan ibunya. Mungkin hanya dialah yang berpola pikir berbeda dengan mereka.

“Nenekmu tidak ingin mendapatkan kekayaan melalui sihir. Dia ingin berusaha sendiri,” tukas Madeley. Ada nada kagum dalam suaranya.

Mikan mengeluarkan cibiran kecil dari bibirnya. “Kalau dia tidak mau mendapat kekayaan melalui sihir, untuk apa dia setiap hari hanya bergelut dengan sihir, dan menulis buku sihirnya?” tanya Mikan, nadanya menantang.

“O,o… Kalau itu aku tidak tahu.”

Mikan diam sejenak, membuat keadaan di sekitarnya menjadi turut hening, karena Madeley pun tidak berbicara, dan sibuk memerhatikan bola mata Mikan yang sedang berputar. Mikan sebenarnya tidak terlalu peduli dengan masalah sihir neneknya, dari dulu begitu, dan sampai sekarang tidak berubah; meski sekarang dia mengetahui fakta baru, yaitu sihir neneknya sebenarnya sangat hebat. Tapi, berhubung neneknya juga sudah tiada, maka sepertinya dia tidak akan mendapatkan jawaban itu, dan dia memang tidak terlalu peduli.

“Baiklah. Tapi kau bisa mengabulkan permintaanku, kan?” tanya Mikan, antusias.

“Hanya tiga permintaan,” ujar Madeley, tegas. “Itu pun tergantung apa permintaanmu.”

“Dan setelah kau mengabulkan semua permintaanku?”

“Aku akan kembali ke dalam buku, dan akan keluar lagi ketika ada orang yang membaca mantra itu. Tapi aku tidak akan bisa keluar jika yang membaca adalah orang yang sudah membacanya sebelumnya.”

“Oke.. oke.” Mikan mengangguk-angguk mengerti.

Kepala Mikan mulai berputar cepat, memikirkan permintaan apa yang kira-kira sangat diinginkannya. Dan dia mengingatnya; sesuatu yang sangat diingininya, yang membuat napasnya jadi menggebu-gebu. Tapi dia tidak yakin kalau Madeley akan setuju mengabulkan permintaannya itu. Masalahnya, permintaannya menyangkut perasaan manusia. Lalu Madeley yang tahu membedakan yang baik dan yang jahat, apakah mungkin akan mengategorikan permintaannya sebagai permintaan yang jahat? Well, tidak ada salahnya dicoba, pikir Mikan.

“Bagaimana jika aku meminta supaya seseorang menjadi jatuh cinta padaku?” tanya Mikan, ragu-ragu.

Madeley membulatkan matanya. “Jadi kau sedang menyukai seseorang?”

Mikan memang sedang menyukai seseorang. Dan seseorang itu, adalah seseorang yang bahkan tidak mengenalnya, dan sepertinya tidak akan pernah bisa menyukainya. Bertemu sekali dengan orang itu saja sudah merupakan sebuah keberuntungan yang sangat langka, apalagi membuat orang itu menyukainya; rasanya mustahil. Tapi dengan bantuan Madeley, sepertinya semuanya akan bisa.

“Begitulah,” Mikan membenarkan sambil menundukkan kepalanya, menatap tegel tua yang sudah pecah-pecah pada beberapa bagiannya.

“Hmm,” Madeley menggumam. Matanya tampak menerawang ke langit-langit, berpikir. Dia tidak tahu apakah permintaan yang satu ini dikategorikan jahat atau tidak. Pengalamannya masih belum cukup untuk mengetahuinya. Kembali dilayangkannya matanya pada Mikan yang masih sedang menunduk, takut mendengarkan penolakan Madeley.

Entah kenapa, Madeley merasa wajah Mikan sangat kasihan, dan membuatnya iba. Dan berhubung dia tidak begitu yakin untuk mengategorikan permintaan yang satu ini, sepertinya tidak ada salahnya jika dia mengabulkannya.

“Baiklah. Aku akan mengabulkannya,” tukas Madeley.

Seketika Mikan mengangkat kepalanya, dan memandang Madeley dengan pandangan sumringah. Senyum tersungging di bibir mungilnya, bahkan hingga menampakkan deretan gigi-gigi putihnya yang rapi. Mikan bahkan bersorak dengan gembira, sampai-sampai memeluk Madeley. Madeley ikut tersenyum melihat reaksi Mikan. Tidak bisa dia pungkiri, dia mulai menyayangi gadis itu. Parasnya yang mirip dengan Seonhwa—dan mungkin, jauh lebih cantik daripada Seonhwa—serta kepolosan gadis itu, berhasil merebut hati Madeley hanya dalam waktu beberapa menit saja.

“Jadi,” ujar Madeley, menghentikan sorakan yang ditimbulkan Mikan akibat kebahagiaannya, yang sejak tadi belum berhenti. “Siapa nama pria itu? Bagaimana bisa kau menyukainya? Ceritakan semuanya, sampai ke detil-detil terkecilnya, barulah aku bisa membantumu,” lanjut Madeley.

Mikan tersenyum, matanya menerawang ke atas, memandang langit-langit perpustakaan milik neneknya yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Dia mengingat saat pertama kali dia menyukai pria itu. “Namanya Lee Donghae,” tukas Mikan, mengawali penjelasannya.

Madeley diam, menunggunya.

“Dia adalah seorang artis yang sangat terkenal. Usianya denganku terpaut tiga tahun; tiga tahun lebih tua dariku. Aku…” Mikan terbata, tampak ragu saat ingin mengungkapkan kalimatnya yang selanjutnya. “Aku langsung menyukainya ketika aku melihat posternya yang tertempel di jalan-jalan. Aku—“

“Hahaha,” Madeley tidak sanggup menahan tawanya, membuat penjelasan Mikan terpotong. “Maksudmu, kau jatuh cinta hanya dengan melihat sebuah poster?” ejek Madeley. Tawanya kembali meledak setelah mengungkapkan kalimat singkatnya yang tersendat-sendat oleh tawa.

Mikan menampakkan muka masamnya dengan sengaja. “Iya, iya. Berhenti menertawaiku, Madeley! Kau mau aku melanjutkan penjelasannya, tidak?”

“Oke, oke,” tandas Madeley akhirnya, masih dengan tawa kecil yang sesekali membesar di bibirnya.

“Aku tidak tahu kenapa, tapi saat aku melihat wajahnya di poster, aku merasa kalau aku tidak bisa mengalihkan mataku ke tempat lain lagi; bisa memang, tapi sulit. Aku berdiri di depan poster itu selama beberapa saat, mengamati setiap lekuk wajah artis itu.

“Sebenarnya aku ini tidak pernah memerhatikan dunia entertainment; aku terlalu malas untuk hal itu. Bahkan, saat pertama kali aku melihat poster Lee Donghae, itu mungkin adalah pertama kalinya aku melihatnya. Dan kau tahu, wajahnya benar-benar seperti menyihirku. Itu seperti tidak masuk dalam akal sehatku, tapi merupakan sesuatu yang nyata, yang tak bisa kupungkiri.

“Dan begitu pulang, aku langsung menyelidikinya. Tidak sulit mencari informasi tentangnya, karena dia memang adalah salah seorang artis yang sangat terkenal. Tampan, berkarisma, baik hati, hampir sempurna. Tentu saja banyak gadis yang ingin bersamanya, dan harus kuakui, aku salah satunya. Sejak saat itu, aku selalu saja mengikuti beritanya.

“Sebelumnya, aku tidak pernah bertemu secara langsung dengannya sekalipun. Dan kuharap, kau bisa membantuku untuk ini, Madeley.”

Madeley mengangguk-angguk. Ternyata cinta itu memang aneh, dan sulit dimengerti. Kita tidak pernah bisa menebak kapan cinta itu akan datang, dan menghancurkan seluruh susunan dalam hati seseorang, yang sudah diatur sangat rapi, dan diproteksi sebagaimanapun oleh pemiliknya. Salah satu contoh nyatanya adalah Mikan. Korban cinta, yang bahkan hanya dengan memandang poster di pinggir jalan satu kali, dan sudah harus menderita cinta bertepuk sebelah tangan, yang bahkan orang yang dicintainya sama sekali tidak mengenalnya.

“Baiklah, kau tidak perlu khawatir karena sekarang aku akan membantumu. Bisakah kau perlihatkan padaku paras Lee Donghae?”

“Maksudmu foto?”

“Tentu.”

Dengan segera, Mikan mengambil dompet yang masih melengket di kantong celana jins belel yang dikenakannya. Di dalam dompet itu, dia menyimpan beberapa foto Lee Donghae dalam berbagai pose. Mikan mengeluarkan salah satunya, dan memperlihatkannya pada Madeley.

Bola mata Madeley berputar setelah melihat foto itu. “Sepertinya aku tidak asing dengan Lee Donghae ini,” ujar Madeley.

Mikan menautkan kedua alisnya. “Tidak asing bagaimana?”

Madeley menggeleng pelan, membuat rambut sosisnya ikut terbang ke kanan dan ke kiri. “Tidak. Mungkin aku salah,” jawabnya, mantap. “Kau tenang saja. Soal Lee Donghae itu, biar nanti aku yang urus.”

“Bagaimana caranya?” Biar bagaimanapun, Mikan masih tetap tidak mengerti cara kerja sihir dari Madeley.

Madeley tersenyum. “Pada saat Lee Donghae bertemu denganmu, dia akan jatuh hati pada pandangan pertama padamu.”

Mikan merengut. Wajahnya kembali tampak kusut. “Aku saja tidak pernah bisa bertemu dengannya,” bisik Mikan, loyo.

“Kalau begitu kau berusaha agar bisa bertemu dengannya. Kau beruntung karena aku sudah membantumu hingga Lee Donghae akan jatuh cinta pada pandangan pertama padamu,” tandas Madeley, menggebu-gebu.

Yang dikatakan Madeley memang betul. Bagaimanapun, dia tetap harus berusaha, meski sudah dibantu dengan sihir. Dengan berusaha, setidaknya akan membuat hati Mikan terasa lebih baik.

 

 

*   *    *

     Lee Donghae adalah seorang artis terkenal dan kaya raya. Kekayaannya bukan saja berasal dari penghasilannya, tapi juga dari orangtuanya, yang adalah seorang pengusaha terkenal. Sejak kecil, menjadi artis merupakan impiannya. Dan dia akhirnya berhasil menggapai impian itu lima tahun yang lalu. Perlahan tapi pasti, karirnya semakin menanjak dan menanjak. Dia cukup bangga akan prestasinya dalam dunia hiburan, demikian juga orangtuanya.

Kesibukan Lee Donghae sebagai artis tak urung terkadang membuatnya kelelahan akibat kegiatan yang super padat. Dan karena terlalu kelelahan, Donghae juga tak jarang terserang penyakit; terutama pada awal-awal debutnya. Kini, intensitas Donghae jatuh sakit sudah mulai berkurang. Mungkin karena dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan jadwal padatnya itu.

Hari ini, berbeda daripada biasanya. Jadwal Donghae benar-benar lengang. Terlalu lengang, sampai Donghae merasa jenuh berada di apartemennya. Apalagi manajernya yang hanya lebih tua tiga tahun darinya sedang pergi berlibur ke pulau Jeju dengan istri dan anaknya. Tidak ada acara TV yang menarik, dan tidak ada sesuatu yang menarik bisa dilakukannya di dalam apartemen. Tapi, dia terlalu malas jika harus menghadapi insiden dikejar-kejar fans lagi jika penyamarannya yang lagi-lagi terbongkar.

Para fans sudah terlalu menghafal wajah Donghae. Menyamar dengan menggunakan masker, kaca mata hitam dan topi sekalipun, masih bisa ketahuan oleh fans. Hanya keberuntungan saja yang bisa membuatnya tidak ketahuan; dan itu hanya pernah dialaminya sekali. Dari beberapa puluh kali dia keluar dengan memakai penyamaran, hampir semuanya ketahuan oleh fans kecuali yang satu kali itu. Dan mencoba peruntungan yang kecil itu, sepertinya Donghae sangat malas.

Tapi sepertinya, kejenuhannya kali ini sudah tidak tertahankan lagi, untuk dapat membuatnya tetap tinggal di apartemen. Dan rasanya, mungkin kalau keluar sekali ini, dan mencoba peruntungannya lagi tidak ada salahnya. Mungkin dia harus meningkatkan penyamarannya, atau mencoba penyamaran jenis baru agar fans tidak mengenalinya.

Donghae mengenakan baju kaos berwarna putih, dengan hoodie berwarna coklat. Dia menggunakan masker, topi dan kaca mata hitam baru yang belum pernah dipakainya sebelumnya. Selama ini, setiap apa yang dikenakan Donghae dan sudah dipertunjukkan pada fans,  maka para fans itu pasti akan mengingatnya. Maka itulah, pada saat-saat seperti ini, beberapa barang penyamaran baru paling dibutuhkan.

Siaplah Donghae untuk keluar sekarang, dengan segala properti pada tubuhnya yang berwarna gelap. Topi hitam, masker hitam, kaca mata hitam, sepatu hitam, hanya jaketnya saja yang berwarna coklat. Dia juga bahkan menggunakan sarung tangan berwarna hitam. Gayanya yang sudah seperti teroris yang sedang menyamar—kentara sekali kalau dia ingin menutupi wajahnya—malah mungkin akan membuat orang-orang di sekitarnya curiga. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak punya cara lain selain cara yang seperti ini.

Donghae menggunakan mobil rahasianya, sebuah mobil Lamborghini berwarna hijau metalik. Bersih dan mengilat; terlihat kalau pemiliknya merawat mobil itu dengan baik. Donghae memang sangat rajin membawa Lamborghininya itu ke salon mobil. Sepanjang perjalanan, tidak ada seorang pun yang mengenali mobilnya, dan dia bersyukur akan hal itu.

Setelah mengemudi cukup lama, akhirnya Donghae tiba di pusat kota. Pusat kota selalu sangat ramai; entah darimana datangnya semua orang-orang ini, hingga dapat mempertahankan keramaian pusat kota. Banyak penjual dan warung makanan, mulai dari yang tenda-tenda di pinggir jalan, sampai kepada rumah-rumah besar mewah yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.

Mata Donghae tak bisa lepas dari sebuah warung kopi, yang sudah sejak lama diperhatikannya—sejak beberapa tahun yang lalu. Dia tidak mengerti, tapi dia seakan memiliki hasrat untuk mencicipi kopi pada warung itu; sebuah warung kopi dengan nama Kaffee. Desain interior di dalamnya membuat Donghae sangat tertarik. Desain itu diperlihatkan jelas kepada orang-orang yang berlalu-lalang di jalan ini—dan Donghae adalah salah satunya—melalui kaca etalase berwarna bening pada warung itu.

Pada kaca etalase itulah tertulis nama dari warung kopi itu, Kaffee. Sayang, Donghae tidak pernah memiliki keberanian untuk masuk ke dalamnya, apalagi duduk berlama-lama di dalam. Tapi hari ini berbeda. Dia ingin mencoba peruntungannya. Lagi pula, waktunya tidak semepet biasanya. Maka dari itu, Donghae memutuskan untuk masuk ke dalam warung kopi itu.

Donghae memarkirkan Lamborghininya di tengah jejeran mobil-mobil lain yang berbaris miring, di depan kaca etalase kafe. Dia masuk ke dalam, dan menimbulkan bunyi pada lonceng kecil yang tergantung di atas pintu kafe itu. Angin sejuk dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membebaskannya dari udara panas yang penuh polusi di luar.

Seorang gadis yang sedang berdiri di balik meja kasir, yang bertugas sebagai kasir sekaligus pelayan yang membuatkan kopi langsung menyambutnya. “Eoso eoseyo,” sambut gadis itu sambil menunduk 90 derajat pada Donghae.

Donghae mengalihkan perhatiannya sekilas dari gadis itu, memerhatikan arsitektur dan dekorasi dari kafe ini dengan teliti. Bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir Donghae datang kemari, dan baru bisa datang kembali pada waktu yang sangat lama.

Kafe ini didominasi dengan warna coklat, mulai dari coklat tua sampai coklat muda. Dindingnya dilapisi dua warna cat, coklat tua dan coklat pastel. Aroma kopi menyebar di seluruh penjuru ruangan, dan lampu oranye memberikan kesan yang sedikit berbeda di tengah terangnya cahaya matahari yang menembus masuk melalui kaca etalase besar yang menutupi hampir setengah dari bagian ruangan di kafe ini. Meja-meja bulat berwarna coklat dengan kursi berwarna senada yang berdiri dengan anggun di sisinya berjejer rapi di kafe ini. Sungguh suasana yang dapat membuat hati Donghae nyaman.

Setelah puas memerhatikan sekeliling ruangan kafe—dan itu hanya berlangsung selama tidak sampai semenit saja—Donghae berjalan ke kounter yang terletak di sisi ruangan. Dia menghampiri gadis dengan rambut yang tergulung rapi di atas kepalanya, yang berdiri di depan meja kasir. Seakan terhipnotis, Donghae merasa tidak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu. Gadis yang manis, dengan mata yang bulat dan bola mata berwarna coklat jernih; sangat jernih sampai Donghae bisa melihat garis halus berbentuk abstrak yang ada di dalam bola mata gadis itu. Hidungnya mancung, dan alisnya berwarna coklat, sama seperti warna rambutnya. Beberapa helaian dari rambutnya yang tergulung jatuh membingkai wajah indah gadis itu.

Dalam balutan seragam kerjanya, dengan celemek berwarna coklat yang sudah dikotori dengan noda-noda kopi yang tumpah, gadis itu malah membuat Donghae semakin terpesona. Bahkan Donghae sudah lupa apa tujuan utamanya kemari.

“Siapa namamu?” tanya Donghae, langsung.

“Ne?” Gadis itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Donghae. Matanya yang sudah besar dan bulat, semakin membulat akibat pertanyaan Donghae barusan. “Ah, kau bisa membaca name tagku, kan?”

Donghae merasa tolol karena menanyakan pertanyaan seperti itu. Dia bahkan seperti kehilangan pikirannya sampai tidak bisa melihat name tag yang dengan jelas terpampang di seragam gadis itu. Donghae mengeluarkan cengiran di balik masker hitamnya, yang sudah pasti tidak dapat dilihat oleh siapa pun. “Song Mikan,” Donghae mengejanya. “Boleh aku memanggilmu Mikan saja?”

Mikan bingung sekaligus senang. Setidaknya pria aneh di hadapannya tidak menanyakan pertanyaan menyebalkan yang sudah bosan didengarnya. “Ne,” tukas Mikan, mantap.

“Kalau begitu kau mau pesan apa, Tuan?” tanya Mikan, ramah.

Mata Donghae berputar-putar di balik kaca mata hitamnya yang tidak tembus pandang dari bagian luarnya, menjelajahi deretan huruf-huruf yang membentuk kata-kata pada menu di kafe itu. Tapi pikirannya tidak dapat berputar dengan jernih. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi kopi seperti apa yang ingin diminumnya. Akhirnya dia menunjuk salah satu menu kopi secara sembarangan.

Mikan memberikan gelas berisi kopi yang sudah dibuatnya pada Donghae, dan Donghae membayarnya. Selesai itu, Donghae duduk pada salah sebuah meja di sudut kafe. Penyamarannya kali ini ternyata benar-benar berhasil. Pelayan kafe bernama Mikan itu pun tidak mengenalinya. Tapi, entah kenapa ada perasaan sedih yang timbul dalam hatinya.

 TBC

Categories: Fantasy, Romance, Story
  1. August 17, 2011 at 1:12 PM

    Hello Simple Miracle,

    My name is Catherine, I’ve been reading your blog, I’m impressed by its quality and nice and cute presentation (love hello kittie!), also the fun way you write about k-pop artists and music, I enjoyed your interesting views and your posts here a lot.

    That is why I would love to add your blog in the blog directory that I admin. It’s a high web traffic, Page Rank 5 blog directory named Blogdire, http://www.blogdire.com, it’s visit count grows exponentially every day and has high quality gained by listing great blogs like yours, because it does not have advertisement nor pop-ups.

    Having your blog listed in my directory, will definitely improve it’s page rank in search engines, (like Google), and you will have many visits to leave nice comments and feedback, and of course, more people to enjoy your blog and share your interests.

    In exchange of becoming part of the directory, all I ask is a simple link to my site, I can assure you, the operation is extremely simple and there is no money involved.

    Let me know if you are interested and what you think.

    Kind regards,

    Cathy

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: